Home / Post / Berita / Babinsa Jelaskan Sejarah Kembalinya Papua ke Dalam NKRI di Madrasah Aliyah

Babinsa Jelaskan Sejarah Kembalinya Papua ke Dalam NKRI di Madrasah Aliyah

Yapsel – Siapa yang tahu tanggal berapa hari kembalinya Papua ke pangkuan NKRI? Jawab salah seorang siswa : tanggal 01 Mei, Pak.

Demikian sepenggal cerita hadirnya Bintara Kodim 1709/Yawa Serda Amirudin Abd. Majid Waay yang saat itu memberikan pelajaran tentang “Sejarah kembalinya Papua ke dalam pangkuan NKRI” kepada murid-murid di Sekolah Madrasah Aliyah Darussalam Serui Kab. Kep. Yapen, Kamis (24/01/2019).

Momentum peringatan kembalinya tanah Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi adalah suatu tonggak perjuangan yang harus dikenang. Fakta sejarah harus diluruskan, tentang kemurnian bahwa Papua adalah bagian dari NKRI sejak Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945. “Karena belakangan ini ada beberapa pihak yang ingin mengubah realita sejarah dan memutarbalikkan fakta bahwa Papua bukan bagian dari NKRI,” ucap Serda Amirudin.

“Papua yang dulunya disebut sebagai Irian Barat sejak 17 Agustus 1945 sudah masuk dalam wilayah Republik Indonesia. Orang banyak berargumen, memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Ibu Pertiwi. Itu tidak benar, Irian Barat dari dulu sudah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sesuai dengan surat edaran Gubernur Papua nomor T-42/4905/SET, momentum 1 Mei ini juga digabungkan dengan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional”, sambungnya.

“Proses persiapan referendum kala itu memakan waktu sampai 7 (tujuh) tahun. Baru pada tahun 1969 referendum (PEPERA) digelar dengan disaksikan oleh dua utusan PBB. Yang hasilnya, Papua akhirnya kembali ke pangkuan NKRI. Maka jadilah Papua menjadi provinsi di Indonesia dengan nama Irian Jaya. Namun keputusan ini lagi-lagi ditentang OPM (Organisasi Papua Merdeka) dan sejumlah pengamat independen yang diprovokasi oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab”, jelasnya.

Kemudian PEPERA diragukan keabsahannya, itu adalah bahasa kecewa sekelompok aktivis Papua dan OPM yang di bentuk dan lahir jauh setelah PEPERA disahkan. Mereka terus berupaya agar di Tanah Papua dilakukan referendum ulang. Padahal mereka tahu bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan.

“Sebagai generasi penerus kita tidak boleh lupa dengan sejarah dan perjuangan para pahlawan yang dengan gigih mempertahankan dan mengembalikan Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi”, tegasnya.

“Saat ini kita sudah berbeda dengan perjuangan para pendahulu kita, tugas kita sekarang sebagai pelajar adalah menuntut ilmu setinggi tingginya sehingga cita-cita pendahulu kita bisa diwujudkan dimasa mendatang dan kepada kalian para generasi muda Papua yang sadar akan sejarah ini, mari kita fokus membangun Papua untuk semakin maju dan sejahtera”, tutupnya. (Prd/Cen)

About admincen